UJI EFEKTIVITAS ANTIPIRETIK EKSTRAK ETANOL DAUN KUMIS KUCING (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.) PADA MERPATI JANTAN (Columba livia)
Kata Kunci:
Antipirertik, ekstrak etanol, daun kumis kucing, dinitrofenol, merpati jantanAbstrak
Daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, terutama flavonoid yang dapat menghambat pelepasan arakidonat untuk jalur siklooksigenase sehingga berpotensi sebagai penurun demam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui golongan senyawa kimia metabolit sekunder di dalam daun kumis kucing. Tahap penelitian dilakukan pemeriksaan karakterisasi simplisia, skrining fitokimia ekstrak etanol daun kumis kucing (EEDKk), uji efektivitas antipiretik ekstrak etanol daun kumis kucing menggunakan merpati jantan. Setiap hewan diukur suhu tubuh awalnya, kemudian diinjeksi dengan dinitrofenol secara intramuskular. Dibiarkan selama 2 jam dan diukur kembali suhu tubuhnya sampai demam. Kemudian merpati dibagi dalam kelompok 1 diberi suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelopok 2 diberi paracetamol sebagai control positif, kelompok 3 diberi suspensi EEDKk 100 mg/kgBB, kelompok 4 diberi suspensi EEDKk 200 mg/kgBB, dan kelompok 5 diberi suspensi EEDKk 300 mg/kgBB. Setiap 20 menit setelah pemberian bahan uji dilakukan pengukuran suhu tubuh selama 3 jam sampai normal kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstak etanol daun kumis kucing mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin tanin, triterpenoid/steroid, dan glikosida. Semakin besar dosis ekstrak etanol daun kumis kumis yang diberikan, maka presentase penurunan suhu tubuh merpati semakin besar, sehingga daya antipiretik dan efektivitas antipiretiknya semakin besar. Hasil uji Analisa Varian (ANAVA) dan uji BNT bahwa pada dosis ekstak etanol daun kumis kucing yang memberikan efektivitas sebagai antipiretik paling baik 200 mg/KgBB pada menit ke-130 tidak berbeda nyata dengan 300 mg/KgBB dan parasetamol 45 mg/KgBB.
Referensi
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia. Ed IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
DepKes, R. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI (pp. 300–306, 321, 325, 333–337). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM. 1989. Materia Medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal.155-518.
Ditjen POM. (2000). Acuan Sediaan Herbal. Edisi Pertama. Jakarta. PT Indofarma. Hal. 34-35.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. jakarta: DepKes RI. Hal.1,10-11
Haney Wahba M.D. (2004). The antipyretic effect of ibuprofen and acetaminophen in children. Pharmacotherapy: The Journal of Human Pharmacology and Drug Therapy, 24(2), 280-284.
Inderiyani, & Herdaningsih, S. (2021). Uji Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Umbut Batang Rotan (Calamus rotang L.) Terhadap Mencit Putih Jantan (Mus musculus). Jurnal Komunitas Farmasi Nasional, 1(1), 75–84.
Katzung, Bertram G. (2012). Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Vol. 27. Penerbit Buku Kedokteran Egc Permenkes.
Livia, C. W., & Wardhita, G. J. (2010). Perbandingan waktu induksi, durasi dan pemulihan anestesi dengan penambahan premedikasi atropin-xylazin dan atropin-diazepam untuuk anestesi umum ketamin pada burung merpati (Columbia livia). Buletin Veteriner Uddayana, 2(2), 93-100.
Nurfitri, M. M., Queljoe, E. De, & Datu, O. S. (2021). Uji Efek Analgetik Ekstrak Etanol Daun Kumis Kucing (Ortosiphon aristatus (Blume) Miq.) Terhadap Tikus Putih Jantan. Pharmacon, 10(4), 1155–1161.
Widyasari, R., Yuspitasari, D., Masykuroh, A., & Tahuhiddah, W. (2018). Uji aktivitas antipiretik ekstrak daun sisik putih (Rattus norvegicus) jantan galur wistar. Jurnal Ilmu Farmasi Dan Klinik, 15(1), 22–28.
Wijayakusuma, H. H. (2000). Ensiklopedia milenium tumbuhan berkhasiat obat Indonesia. Prestasi Insan Indonesia.
Yusri. D. J., Sayoeti, Y., & Moriska, M. (2015). Kelainan Hati akibat Penggunaan Antipiretik. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(3), 978–987.
